Feeds:
Pos
Komentar

Psikologi industri memiliki fokus pada penentuan kompetensi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan dan mengatur menempatkan pekerja yang memiliki kompetensi yang dianggap sesuai (Hutahaean, 2009). Proses ini diawali dengan proses rekrutmen yaitu dengan membuka kesempatan kerja yang yang biasanya diberitahukan melalui suatu media massa. Kelanjutannya adalah perusahaan menyeleksi resume yang tepat dengan kualifikasi pekerjaan yang tertera pada informasi lowongan pekerjaan.

Setelah tersortir calon karyawan yang akan diterima, data calon-calon karyawan yang akan akan dan belum diterima, akan di input kedalam suatu database perusahaan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah perusahaan tersebut jika suatu saat memerlukan calon karyawan lagi dengan persyaratan yang sama. Terkadang antar perusahaan yang bekerja sama juga saling bertukar data dari database masing-masing. Karena itulah jangan heran jika sekarang seseorang dapat saja dihubungi oleh sebuah perusahaan, padahal ia tidak pernah melamar ke perusahaan tersebut.

Kendall dan Kendall (dalam Hutahaean, 2009) menerangkan bahwa suatu sistem informasi dibuat untuk tujuan yang berbeda, akan tetapi tujuan dari sebuah sistem informasi adalah untuk mendukung atau mempermudah tugas-tugas organisasional dalam menyimpan data dan dapat membantu penggunanya untuk menginterpretasikan dan menerapkan data, dimana ouputnya adalah untuk membuat suatu keputusan. Database calon karyawan baru yang dimiliki perusahaan diharapkan mampu membantu sebuah perusahaan untuk merekrut tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya tanpa harus memasang iklan lowongan lagi, seleksi resume lagi, dan lain-lain. Dari hal ini akan mempercepat proses perekrutan tenaga kerja baru dan menghemat biaya bagi perusahaan tersebut.

Reference:

Hutahaean, E.S. (2009). Sistem Informasi Psikologi Industri: Menyeleksi Aplikasi Resume Pekerjaan Dengan Cara Yang Tepat Dan Objektif. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur, &Sipil), 3, A104-A116. Universitas Gunadarma. Depok.

Salah satu kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi selain telepon selular atau handphone adalah komputer berjaringan internet yang dapat digunakan menghubungkan seseorang dengan orang lain tanpa ada batasan jarak dan waktu. Komunikasi berbasis internet ini dapat menghubungkan banyak orang sekaligus dalam dunia maya yang ingin saling menyampaikan pesan. Komunikasi berbasis internet ini disebut juga dengan Computer Mediated Communication (CMC). CMC adalah suatu transaksi komunikasi yang terjadi melalui penggunaan dua atau lebih komputer jaringan (anonim., 2010).

Salah satu contoh dari bentuk CMC yang sangat terkenal saat ini di kalangan masyarakat adalah situs jejaring sosial Facebook. Facebook adalah website jaringan sosial dimana para pengguna dapat bergabung dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan daerah untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan orang lain. Orang juga dapat menambahkan teman-teman mereka, mengirim pesan, dan memperbarui profil pribadi agar orang lain dapat melihat tentang dirinya (anonim, 2008).

Di Indonesia sendiri, pengguna Facebook mencapai 11.759.980 pengguna dengan persentase terbesar 40,1% pada remaja berusia 18-24 tahun (http://www.checkfacebook.com/). hal ini menunjukan betapa menjamurnya jejaring sosial Facebook dalam masyarakat khususnya remaja untuk membantu mereka dalam berkomunikasi.

Punnyanunt-Carter (2006) meneliti tentang salah satu ciri perilaku serta hubungan interpersonal yang terbentuk dari komunikasi dalam dunia maya, yaitu keterbukaan diri. Para pengguna situs pertemanan sosial tersebut memaparkan informasi mengenai dirinya dengan intensitas yang cukup sering. Menurut remaja, media Facebook membantu mereka untuk berkoneksi dengan jaringan sosial yang luas dan terlihat dalam sebuah jaringan sosial membuat remaja menjadi dikenal oleh orang lain dan memungkinkan untuk dapat berkembang menciptakan sebuah hubungan (Christofides, Muise & Desmarais, 2009).

dengan keterbukaan diri yang dilakukan oleh seseorang ketika berinteraksi di dunia maya seperti Facebook, membuat mereka mampu memenuhi kebutuhan afiliasi mereka, memperoleh validasi sosial, menigkatkan kontrol sosial, meraih pengklarifikasian diri, dan melatih pengekspreresian diri (Derlega, dalam yoseptian, 2010). meskipun demikian tanpa disadari ini juga membuat berkurangnya privasi dalam diri mereka. padahal Privasi memiliki fungsi untuk mengembangkan identitas pribadi, yaitu mengenal dan menilai diri sendiri (Altman, dalam Prabowo, 1998). Proses mengenal diri sendiri ini tergantung pada kemampuan untuk mengatur sifat dan gaya interaksi sosial dengan orang lain. Bila seseorang tidak dapat mengontrol interaksi dengan orang lain, maka dirinya akan memberikan informasi yang negatif tentang kompetensi pribadinya (Holahan, dalam Prabowo, 1998) atau akan terjadi proses ketelanjangan sosial dan proses deindividuasi (Sarwono, dalam Prabowo, 1998). Menurut Westin (dalam Prabowo, 1998) dengan privasi seseorang juga dapat melakukan evaluasi diri dan membantunya mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri (personal autonomy). Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.

hasil riset menunjukan bahwa privasi memiliki korelasi negatif dengan keterbukaan diri. hal ini berari semakin baik privasi yang dimiliki seseorang, maka semakin baik ia mampu mengatur sejauh mana ia dapat membuka dirinya ketika berinteraksi baik di dunia nyata maupun di dunia maya (Lee, 2010). kabar baiknya adalah kebanyakan remaja masih pada keterbukaan diri yang normal ketika menggunakan Facebook, meskipun tetap saja masih ada sekitar 36.36% remaja berada pada kategori tinggi dan 12.72% pada kategori sangat tinggi, yang menunjukan bahwa sejumlah remaja masih sa-ngat begitu terbuka saat berinteraksi melalui situs jejaring sosial Facebook dan cenderung tidak menyaring informasi pribadi apa saja yang dapat diungkapkan pada orang lain (Lee, 2010).

simpulan:

kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam situs jejaring sosial khususnya Facebook ternyata memiliki dampak secara psikologis baik positif maupun negatif. dampak psikologis positif yang dapat diperoleh antara lain adanya keterbukaan diri yang tidak terbatas yang berguna untuk memenuhi kebutuhan afiliasi seseorang, memperoleh validasi sosial, meningkatkan kontrol sosial, meraih pengklarifikasian diri, dan melatih pengekspresian diri.

akan tetapi, keterbukaan diri dalam dunia maya juga memiliki dampak negatif yaitu berkurangnya aspek privasi dalam diri seseorang. padahal privasi memiliki fungsi untuk mengembangkan identitas pribadi, melakukan evaluasi diri, dan membantunya mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri (personal autonomy). Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.

selain 2 aspek psikologis diatas, dampak lain yang dapat muncul akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam jejaring sosial adalah bisa terjadi kurangnya kontak sosial di dunia nyata karena seseorang lebih senang untuk berinteraksi melalui dunia maya.

Referensi:

  • Punyanunt-Carter, N.M. (2006). An analysis of college student’s: Self-disclosure behaviors on the internet. College Student Journal, 5, 329-331.
  • Christofides, E., Muise, A., & Desmarais, S. (2009). Information disclosure and control on facebook: are they two sides of the same coin or two different processes? Journal of Cyberpsychology & Behavior, 12, 341-345.
  • Yoseptian, F.X. (2010). Hubungan Kebutuhan Affiliasi Dengan Keterbukaan Diri Pada Remaja Yang Menggunakan Fitur Update Status Pada Situs Jejaring Sosial Facebook. Penulisan Ilmiah (Tidak Diterbitkan). Depok. Universitas Gunadarma
  • Prabowo, H. (1998). Seri diktat kuliah: Arsitektur, psikologi dan masyarakat. Jakarta: Gunadarma University Press.
  • Lee, Yoseptian. F.X. (2010). Privasi Dan Keterbukaan Diri Pada Remaja Pengguna Facebook. Jurnal Ilmiah Psikologi Universitas Gunadarma, 4, 72-75.

 

Sistem Informasi SDM

Dewasa ini, kemajuan teknologi informasi sangat dirasakan di berbagai aspek masyarakat diantaranya adalah dalam bidang industri dan organisasi. jika dahulu pelamar pekerjaan masih harus mengatar surat lamaran ke perusahaan yang ditujunya, maka sekarang mereka cukup duduk di depan komputer dan mengirimkan resume secara online.

banyak situs-situs yang bergerak di bidang penawaran lowongan pekerjaan seperti Jobsdb.com, karier.com, bursalowongankerja.com, dll. hal ini mempermudah bagi pelamar kerja dan perusahaan karena mereka berdua diuntungkan dalam hal waktu dan efisiensi tenaga. Pertama-tama, internet dapat digunakan dalam tahapan awal rekrutmen yaitu untuk menyaring keluar kandidat pekerja yang tidak memenuhi syarat. Dengan menanyakan kepada pelamar beberapa pertanyaan mendasar saja secara online, semua proses itu dapat di eliminasi (Chandra, 2011).

Kalau kita melihat informasi pekerjaan di sebagian besar situs web di Indonesia, banyak di perusahaan yang memasang form aplikasi yang sangat lengkap untuk diisi oleh pelamar. Bahkan ada yang sampai harus berkali-kali klik pindah halaman. Menurut Jason Phillips, Manajer Senior Human Capital di Deloitte Consulting Research New York, proses screening awal seharusnya tidak memakan banyak waktu dari pelamar (Chandra,2011). Menurutnya, apabila mengisi form secara online itu memerlukan waktu lebih dari 20 menit, maka kemungkinan perusahaan akan kehilangan banyak kandidat yang berpotensi karena mereka yang menyerah sebelum sempat menyelesaikan semua pertanyaan dalam form aplikasi tersebut (Chandra, 2011).

ilmu psikologi sangat berperan dalam proses rekrutmen dan seleksi dalam dunia industri. para calon pekerja akan diberikan psikotes untuk melihat kemampuan intelijensi dan kepribadian mereka, kemudian wawancara untuk lebih menggali lagi kepribadian, motif, kebutuhan, dll dari si pelamar kerja. (Munandar, 2001).

sesungguhnya memang dengan kehadiran teknologi informasi dalam bidang rekrutmen dan seleksi sangat membantu industri dalam merekrut karyawan baru, dikarenakan efisiensi waktu, tenaga, dan biaya. akan tetapi, tetap ada hal-hal yang menjadi kekurangan jika proses rekrutmen dan seleksi sepenuhnya melalui teknologi informasi yaitu secara psikologis tidak akan mampu mengungkap perbedaan dan kemampuan individu secara kualitatif dan sangat mungkin terjadinya manipulasi sehingga aspek yang sebenarnya dari si pelamar kerja tidak terungkap.

DaftaR Pustaka:

Chandra. M. Menggunakan Internet dalam Proses Rekrutmen. http://www.portalhr.com. diakses 22 Februari 2011,. 19.43

Munandar. AS. Psikologi Industri Dan Organisasi. Depok. UI Press. 2001

PERIKLANAN

Periklanan merupakan salah satu kegiatan promosi yang banyak dilakukan oleh perusahaan maupun perseorangan. Dalam periklanan ini, pihak yang memasang iklan harus mengeluarkan sejumlah biaya atas pemasangan iklan pada media. Periklanan adalah komunikasi non-individu dengan sejumlah biaya, melalui berbagai media yang dilakukan oleh perusahaan, lembaga non-laba, serta individu-individu. (Swastha & Sukotjo, 1999)

Iklan merupakan sarana komunikasi yang digunakan komunikator dalam hal ini perusahaan atau produsen untuk menyampaikan informasi tentang barang atau jasa kepada publik, khususnya pelanggannya melalui suatu media massa. Selain itu, semua iklan dibuat dengan tujuan yang sama yaitu untuk memberi informasi dan membujuk para konsumen untuk mencoba atau mengikuti apa yang ada di iklan tersebut, dapat berupa aktivitas mengkonsumsi produk dan jasa yang ditawarkan. (Anonim, 2008).

 

TUJUAN IKLAN:

Menurut Swastha dan Sukotjo (1999) tujuan periklanan yang utama adalah menjual atau meningkatkan penjualan barang atau jasa. Adapun tujuan-tujuan lain dari periklanan adalah:

  1. Mendukung program personal selling dan kegiatan promosi lainnya.
  2. Mencapai orang-orang yang tidak dapat dicapai oleh salesman dalam jangka waktu tertentu.
  3. Mengadakan hubungan dengan prara penyalur, misalnya dengan mencantumkan nama dan alamatnya.
  4. Memasuki daerah pemasaran baru dan menarik langganan baru.

 

KARAKTERISTIK DAYA TARIK IKLAN

Daya tarik iklan mempunyai karakteristik sebagai berikut (Anonim, 2008):

  1. Bermakna, menunjukkan manfaat yang membuat produk itu lebih diinginkan atau lebih menarik konsumen.
  2. Dapat dipercaya, konsumen harus percaya bahwa produk atau jasa akan memberikan manfaat yang dijanjikan.
  3. Khas, harus menjelaskan mengapa produk itu lebih baik ketimbang merek pesaing.

 

ELEMEN-ELEMEN IKLAN

Untuk mengetahui apakah iklan suatu produk dapat menarik perhatian masyarakat maka diperlukan elemen-elemen iklan sebagai berikut (Anonim, 2008):

1.Elemen heard words

Maksudnya adalah kata-kata yang terdengar dalam iklan yang dapat membuat audiens semakin mengerti akan maksud pesan iklan yang disampaikan.

2. Elemen music

Maksudnya adalah musik yang terdapat dalam tayangan iklan termasuk iringan musik maupun lagu yang ditampilkan.

3. Elemen seen words

Maksudnya adalah kata-kata yang terlihat pada tayangan iklan yang dapat mempengaruhi benak pemirsa.

4. Elemen picture

Maksudnya adalah gambar atau tayangan iklan meliputi obyek yang digunakan, figur yang digunakan, adegan yang ditampilkan.

5. Elemen colour

Maksudnya adalah komposisi atau keserasian warna gambar serta pengaturan cahaya yang terdapat dalam tampilan tayangan iklan.

6. Elemen movement

Maksudnya adalah gerakan yang ada terlihat pada tayangan iklan yang dapat mempengaruhi emosi seseorang untuk larut di dalamnya meliputi fragmen cerita dari adegan yang ditampilkan.

 

SYARAT IKLAN YANG BAIK

Syarat iklan yang baik harus mampu menjawab pertanyaan dasar dari rancangan sebuah sebuah design periklanan yang dirumuskan dalam 5W + 1H (Suhandang, dalam Zaki, 2009) yaitu :

What : apa tujuan iklan ?

Who : siapa khalayak yang akan dijangkau ?

When : kapan iklan dipasang ?

Where : di mana iklan dipasang ?

Why : mengapa harus demikian ?

How : bagaimana bentuk iklannya ?

Selain itu, agar iklan berhasil merangsang tindakan pembeli, menurut Djayakusumah (dalam Pujiyanto, 2003) setidaknya harus memenuhi kriteria AIDCDA yaitu:

  • Attention : mengandung daya tarik
  • Interest : mengandung perhatian dan minat
  • Desire : memunculkan keinginan untuk mencoba atau memiliki
  • Conviction : menimbulkan keyakinan terhadap produk
  • Decision : menghasilkan kepuasan terhadap produk
  • Action : mengarah tindakan untuk membeli

Berdasarkan konsep AIDCDA, promosi periklanan harus diperlukan pengetahuan yang cukup tentang pola perilaku, kebutuhan, dan segmen pasar. Dengan Konsep tersebut diharapkan konsumen dapat melakukan pembelian berkesinambungan.

Referensi:

  • Anonim. 2008. Definisi Iklan, Efek, Dan Iklan Korporat. http:// kuliahkomunikasi.blogspot.com. 12 November 2010.
  • Pujiyanto. 2003. Strategi Pemasaran Produk Melalui Media Periklanan. Jurnal Nirmana 5 (1), 96-109.
  • Swastha, B. & Sukotjo, I. 1999. Pengantar Bisnis Modern. Yogyakarta. Liberty.
  • Zaki, A. 2009. Strategi Iklan : Teori Pesan & Kreatifitas. http://emjaiz.wordpress.com/2009/09/04. 8 November 2010.

Philips Luncurkan SensoTouch 3D

Pria Indonesia akhirnya dapat menikmati Philips SensoTouch 3D. Alat cukur elektrik ini dibuat khusus untuk pria yang ingin mendapatkan pengalaman mencukur terbaik.

Pria Indonesia akhirnya dapat menikmati Philips SensoTouch 3D. Alat cukur yang dihadirkan Philips Consumer Lifestyle Indonesia ini dibuat khusus untuk pria yang sangat menghargai berbagai hal terindah dalam hidup dan ingin mendapatkan pengalaman mencukur terbaik. SensoTouch 3D diciptakan untuk merespon keinginan para konsumen yang tidak hanya peduli terhadap cara bercukur, tetapi juga ingin mendapatkan pengalaman bercukur yang terbaik. Bagi orang-orang ini, alat cukur yang baik tidak hanya cepat dan menempel di permukaan kulit, tetapi harus dapat mempertahankan kelembutan kulit dan dengan iritasi paling minim,” kata Hendra Rusmana Liu, Commercial Leader Philips Consumer Lifestyle Indonesia.

(http://news.id.msn.com/okezone/lifestyle/article.aspx?cp-documentid=4407881)

 

dalam melakukan marketing, Philips membidik segmen pasar para pria maskulin metroseksual yang modern, sukses dan mementingkan penampilan.

saat ini bagi sekelompok pria yang sibuk, mencukur adalah hal yang menghabiskan waktu karena harus berhati-hati jika tidak akan menyebabkan luka. akan tetapi sekarang, mereka dapat mencukur dengan waktu singkat dan tanpa rasa takut akan terluka atau iritasi. mereka dapat menghemat waktu dan penampilan tetap terjaga. dari harga yang dipasang, sekitar 1,7 juta menunjukan bahwa segmen pasar dari produk ini adalah kelas ekonomi keatas. penampilan adalah hal yang penting dalam dunia bisnis, melihat kenyataan ini, Philips menciptakan pisau cukur elektrik yang mudah dan memiliki hasil yang maksimal bagi para eksekutif muda dan yang berjiwa muda sekaligus modern.

psikologi konsumen

Perilaku konsumen adalah:

  • Tindakan yang langsung terlibat untuk mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini (Engel et al, dalam simamora., 2002)
  • Proses pengambilan keputusan yang mensyaratkan aktivitas individu untuk mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau mengatur barang dan jasa (Loundon & Bitta, dalam Simamora., 2002)
  • Perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun rumah tangga, yang membeli produk untuk konsumsi personal (Kolder & Amstrong, dalam Simamora., 2002)

 

Psikologi konsumen adalah:

  • Sebuah cabang ilmu psikologi yang mempelajari bagaimana aspek psikologis seseorang saat memilih, memutuskan, membeli, atau menggunakan sebuah barang atau jasa dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhannya.

 

Konsumen: setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

Contoh:  ibu-ibu pembeli sabun cuci, mahasiswa pengguna binder.

Konsumerisme: paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan.

Contoh: remaja putri yang sering sekali belanja aneka macam sepatu hak tinggi sebuah merk meskipun sepatu tersebut tidak terlalu diperlukannya.

Konsumsi: suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung.

Contoh: olahragawan yang meminum air mineral setelah berlatih.

Konsumtif : seseorang yang menggunakan atau membeli banyak barang atau jasa tanpa memperhitungkan barang atau jasa tersebut memang kebutuhannya atatu tidak.

Contoh: ibu rumah tangga yang memiliki hobi shopping.

 

Dalam teori sosiologis dikatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, seperti keluarga dan kelompok-kelompok sosial dimana seseorang itu menjadi anggota. Pada dasarnya seseorang akan berusaha mengharmoniskan perilakunya dengan apa yang dianggap pantas oleh lingkungan sosialnya. Dengan demikian seseorang akan membeli produk jika produk tersebut diterima oleh kelompok sosialnya (Simamora, 2002). Ketika hendak melakukan pembelian terhadap suatu produk, konsumen terpengaruhi oleh beberapa faktor psikologis seperti: motivasi, persepsi, dan kepercayaan (Anorogo & Widiyanti, 1990). Persepsi yang dimiliki oleh konsumen terhadap suatu barang atau jasa diantaranya diperoleh dari pengaruh lingkungan seperti pesan baik dan menarik yang dibuat oleh produsen, animo masyarakat terhadap suatu barang atau jasa, atau penilaian masyarakat luas terhadap produk tersebut, dll.